Analisis Politik Internasional 
Oleh : Nazril Firaz Al-Farizi

Mari kita petakan saja dalam beberapa poin perkara agar dapat mudah dipahami :

1. Pada Senin (25/03) malam, pasukan Israel telah menembakkan roket ke beberapa titik di jalur Gaza, termasuk sasaran tembaknya adalah kantor pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dan sebuah gedung berlantai lima di pusat kota Gaza yang diklaim adalah kantor keamanan dalam negeri Hamas.

Penembakan roket Israel itu adalah serangan balasan atas penembakan roket Hamas ke arah Kota Tel Aviv bagian utara. Kemudian setelah serangan balasan dari Israel, Hamas pun membalas lagi dengan menembakkan sekitar 10 roket ke arah Kota Sderot, Israel Selatan. Di pihak Israel terdapat 7 orang terluka, di pihak Hamas ada 5 orang terluka. [The Guardian.com]

2. Serangan roket itu terjadi ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan negara ke Gedung Putih, Washington DC, AS yang direncanakan kunjungannya itu akan dilaksanakan selama lebih dari dua hari, akhirnya diputuskan untuk dipersingkat demi kembali pulang untuk memimpin operasi militer Israel ke Palestina.

Pada kunjungan ke Gedung Putih, Benjamin Netanyahu diberitahu beberapa menit oleh militer Israel tentang serangan militer Israel sesaat sebelum naik podium berbicara bersama Trump di hadapan media atas kunjungan kenegaraannya itu. Kemudian Trump pun mengetahui serangan itu dan membuat pernyataan, "Doa kami bersama teman-teman kamu di Israel, seiring mereka melakukan berbagai cara yang luar biasa dalam menghadapi teror yang hebat," katanya. [Edition CNN.com]

3. Maksud kunjungan Benjamin Netanyahu ke Donald Trump yang utama adalah untuk menandatangani secara resmi proklamasi AS atas aneksasi Israel pada Dataran Tinggi Golan yang itu merupakan milik Suriah, tepatnya di Suriah Barat Daya. Trump pun memberikan statement dukungan sebelum menandatangani proklamasi itu, "Hari ini saya mengambil tindakan bersejarah untuk mempromosikan kemampuan Israel untuk mempertahankan diri dan benar-benar memiliki keamanan nasional yang sangat hebat dan sangat kuat, yang berhak mereka miliki," ujarnya. [Edition CNN.com]

4. Proklamasi Trump itu langsung dikecam oleh Suriah melalui kantor berita resmi Suriah, Sana yang mengatakan bahwa pernyataan Trump adalah bentuk "penghinaan" terhadap hukum internasional dan bahwa mereka (Suriah) tidak akan mengubah "kenyataan bahwa Golan adalah akan tetap menjadi Suriah, Arab." [BBC.com]

Pernyataan Trump ini pun ditolak pula oleh Uni Eropa tentang hal itu tetap "belum berubah".

Rusia sebagai pihak yang telah memberi bantuan militer dan pengaruh politik kepada Bashar Assad mengatakan bahwa perubahan dalam status Golan akan menjadi pelanggaran langsung atas keputusan PBB.

Iran sebagai sekutu Suriah sekaligus musuh bebuyutan Israel pun menyebutkan posisi AS atas pernyataan Trump adalah "ilegal dan tidak dapat diterima."

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pernyataan Trump adalah "membawa kawasan itu ke jurang krisis baru."

Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mengatakan "sepenuhnya di luar hukum internasional". [BBC.com]

Meski semua pernyataan itu hakikatnya adalah hanya formalitas semata agar terlihat mendukung Palestina dan menolak AS-Israel.

5. Dataran Tinggi Golan sendiri memiliki luas sekitar 1.200 kilometer persegi (400 mil persegi), dimana sebagian besar Golan telah direbut Israel dari Suriah pada Perang Enam Hari Timur Tengah 1967. Ketika Suriah berusaha merebut kembali Golan pada 1973, tetap menuai kegagalan. Kemudian pada 1981 parlemen Israel pun menerbitkan UU yang menerapkan hukum, yuridiksi dan administrasi Israel atas Golan, dengan kata lain Golan dicaplok Israel. Tetapi kemudian Resolusi 497 Dewan Keamanan PBB menyatakan keputusan Israel itu telah batal demi hukum internasional.

6. Pertemuan antara Netanyahu dan Trump itu adalah sekaligus untuk melakukan pengalihan isu atas kasus politik yang menimpa masing-masing.

7. Netanyahu terjerat 3 kasus yang telah direkomendasikan oleh Jaksa Agung Avichai Mandelblit pada Kamis (28/02) dengan dijatuhi dakwah korupsi. Ketiga kasus itu disebut sebagai kasus 1000, 2000, dan 4000 sebagai kode penyebutan kasus. Kasus 1000 itu adalah pemberian hadiah ilegal berupa sampanye merah muda, cerutu Kuba, bahkan tiket konser Mariah Carey dan lainnya yang ditotal senilai lebih dari $280.000 sebagai sogokan agar Netanyahu mau mempromosikan perusahaan para miliarder asing di Israel termasuk produser Hollywood kelahiran Israel, Armin Milchan dan investor Australia, James Packer lewat kebijakan yang menguntungkan mereka.

Kasus 2000 adalah penyogokan terhadap raja kasino Amerika, Adelson untuk mendorong seorang pemilik perusahaan berita agar meliput hal-hal yang selalu baik soal penggambaran pemerintahan Netanyahu. Selain itu Netanyahu pun melakukan negosiasi dengan Arnon Mozes, penerbit Yedioth Ahronoth, sebuah perusahaan berita harian utama Israel. Mozes pun diminta untuk mengurangi liputan kritis oleh perusahaannya tentang Netanyahu, dengan imbalan asalkan Netanyahu pun mendorong Andelson untuk membatasi peredaran Israel Hayom, sebuah surat kabar yang dimiliki miliarder Amerika.

Kasus 4000 adalah sogokan Netanyahu terhadap perusahaan telekomunikasi terbesar Israel ketika Netanyahu merangkap jabatan selain sebagai Perdana Menteri, pun sebagai Menteri Komunikasi Israel dari 2014-2017. Netanyahu menawarkan regulasi kepada perusahaan berita bernama Walla lewat kelompok Bezeq dan Shaul Elovitch (mantan pemilik kelompok Bezeq). Tujuannya pun adalah untuk mengendalikan Walla agar memberikan liputan yang menguntungkan tentang Netanyahu.

8. Trump sendiri sesungguhnya banyak terjerat kasus, tetapi kasus yang paling utama dan paling besar sehingga berpeluang untuk memakzulkan dirinya adalah kasus tentang dirinya dituduh sebagai antek Rusia karena dituduh telah bekerjasama dengan intelijen Rusia untuk memenangkan dirinya menjadi presiden AS ke-45 pada Pemilu AS 2016 lalu.

Tim kampanye Trump dituduh melakukan kontak dengan intelijen Rusia saat masa pra Pilpres AS 2016 dimana intelijen Rusia telah melakukan peretasan email-email anggota partai Demokrat dan email Hillary Clinton dan mendistribusikan email retasan itu melalui WikiLeaks agar dipublikasikan oleh WikiLeaks untuk mengumbar citra buruk Demokrat dan Hillary Clinton sehingga elektabilitas suara untuk Hillary Clinton pun agar turun.

Penyelidikan kasus ini dimulai oleh Penasihat Khusus, Robert S. Mueller bersama timnya yang telah menindaklanjuti sampai ke tingkat pengadilan atas berbagai laporan dari badan-badan intelijen Amerika, mulai dari FBI, Secureworks, CIA, dan informasi internal lainnya.

Rusia itu sendiri sebagai induk dari operasi intelijen tingkat tinggi ini yang mana badan-badan intelijen Amerika berhasil mengungkap dan merilis sekitar 114 orang sebagai tokoh politik senior Rusia dan 96 orang "oligarki" sekitar Putin. Diantaranya adalah Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Kepala Eksekutif Energi Rusia Rosneft Igor Sechin dan lainnya.

Intelijen Amerika pun mengungkapkan bahwa 2 pangeran Arab yang diduga kuat didorong dan dimanfaatkan pula oleh Rusia dan ikut terlibat. Diantaranya putra mahkota Uni Emirat Arab, Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan sebagai penguasa de facto UEA dan putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman sebagai penasehat utama raja Saudi.

Pada Januari 2018 pemerintah Amerika Serikat merilis daftar pejabat Rusia yang diduga terlibat dalam intervensi Rusia dalam pemilu Amerika 2016 lalu yang menyebabkan Trump menang atas Clinton. Lalu pada hari Selasa (30/01/2018), Presiden Rusia Vladimir Putin menertawakan daftar yang dirilis itu sebagai "tindakan yang tidak bersahabat" dan dirinya tersinggung sembari tersenyum karena kenapa nama dirinya tidak ada di daftar itu, "Saya tersinggung, Anda tahu". Kemudian Putin pun berkata peribahasa oriental lama, "anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu," sebagai ejekan bahwa daftar itu tidaklah penting. Bahkan Perdana Menteri Russia Dmitry Medvedev berkata, "skala kepentingan daftar ini adalah nol," [Agence France-Presse/France 24, 31/01/2018]

Perusahaan keamanan dunia maya, Secureworks yang bekerjasama dengan FBI dan badan intelijen pemerintah lainnya telah menemukan bagaimana para peretas bekerja di sekitar keamanan digital top-of-the-line Clinton untuk mencuri email (mantan) ketua kampanye Clinton, John Podesta pada bulan Maret 2016. Bahkan para peretas pun menargetkan para ajudan serta kepada lebih dari 130 karyawan partai, pendukung dan kontraktor yang berkaitan dengan Demokrat pun diretas oleh intelijen Rusia yang bernama Fancy Bear.

Pesan nakal sebagai serangan pertama peretas kepada orang-orang Demokrat terjadi pada tanggal 10 Maret 2016 yang "didandani" seolah terlihat pesan dari Google/Gmail. Pesan tersebut mendesak pengguna untuk meningkatkan keamanan mereka atau mengganti kata sandinya yang sesungguhnya mengarahkan mereka ke situs umpan/jebakan yang dirancang untuk mengumpulkan kode email mereka agar akhirnya dapat diretas. Orang-orang sasaran pertama adalah Rahul Sreenivasan dan yang sama dengannya yang pernah bekerja dengan Hillary Clinton pada tahun 2008 silam di bidang politik. Para peretas berusaha masuk ke alamat email tahun 2008 yang sudah lama ditinggal dan dinonaktifkan para penggunanya hampir satu dekade.

Para peretas pun mengincar letnan Clinton sekaligus manajer kampanye Clinton, Robby Mook, penasehat senior Jake Sullivan dan pemecah masalah politik Philippe Reines. Bahkan pesan-pesan dari manajer kampanye Clinton, John Podesta telah ada di tangan peretas sebanyak sekitar 50.000 pesan.

Di kubu Trump pun dalam kampanyenya sempat menyinggung soal peretasan email Clinton. Mantan penasehat kebijakan luar negeri Trump, George Papadopoulos mengatakan bahwa pada 26 April 2016 di sebuah hotel di London bahwa dia diberitahu oleh seorang profesor yang terkait erat dengan pemerintahan Rusia bahwa Moskow telah memperoleh informasi yang mencurigakan mengenai Clinton, "Mereka mengetahui keburukan pada dirinya (Clinton). Mereka punya ribuan email," ujar Papadopoulos. [Associated Press/CNBC, 06/11/2017]

Lalu beberapa hari kemudian Amy Dacey, Kepala Eksekutif DNC (Democrat National Committe) mendapat telepon darurat bahwa terjadi pelanggaran serius di DNC. Maka tanggal 10 Juni 2016 Demokrat mengadakan konferensi utama untuk membahas itu.

Lalu disisi lain serangan lainnya adalah munculnya Guccifer 2.0 yang bertindak seolah sebagai pembawa acara yang mengarahkan para wartawan media agar fokus kepada dia sebagai penjelas tentang apa yang terjadi soal peretasan. Guccifer 2.0 menuduh Wikileaks bahwa semua dokumen-dokumen yang dicuri ada di Wikileaks. Lalu kemudian Guccifer 2.0 mengarahkan wartawan media ke situs DCLeaks.com yang sebetulnya situs itu dibuat oleh web hosting Rumania THCServers.com yang dipesan intelijen Rusia yang dibeli seharga $37 bitcoin. Tetapi akhirnya ketiga situs intelijen Rusia ini (Guccifer 2.0, Wikileaks, DCLeaks) menerbitkan lebih dari 150.000 email yang dicuri dari lebih selusin anggota partai Demokrat.

Ketiga situs yang bocor ini tak dapat dipakai untuk menuduh Moskow, karena DCLeaks diklaim dijalankan oleh aktivis peretas Amerika, Wikileaks mengatakan bahwa Rusia bukanlah sumbernya, dan Guccifer 2.0 diklaim sebagai orang Rumania.

Itulah kehebatan kinerja intelijen Rusia yang lengah disadari intelijen Amerika saat Pemilu 2016 lalu, sehingga mengganggu hasil pemilu dan memang ada kesengajaan Rusia agar Trump yang terpilih dalam rangka mengacaukan Amerika selama dipimpin Trump, dimana Trump sendiri pun tidak menyadari dirinya sengaja dimanfaatkan Rusia.

9. Maka pertemuan Netanyahu dan Trump di Gedung Putih pada Senin (25/03) yang lalu itu adalah untuk mengalihkan isu atas permasalahkan kasus yang menjerat diri mereka masing-masing. Hal itu pun mengandung keuntungan lainnya bagi diri mereka masing-masing.

Keuntungan untuk Netanyahu sendiri adalah dia telah mendapatkan dukungan dari Trump atas status Dataran Tinggi Golan yang mana hal ini akan dianggap sebagai sebuah keberhasilan luar biasa untuk Netanyahu, dan akan mengangkat citra dirinya sendiri di hadapan rakyat Israel karena hal ini berhubungan pula dengan Pilpres Israel yang akan diselenggarakan pada 9 April 2019 mendatang. Sekaligus hal ini pun akan semakin menguatkan kekuatan politik Netanyahu atas pesaing utama politik Israelnya, Benny Gantz.

Keuntungan bagi Trump sendiri adalah dia semakin leluasa dan keras untuk mengejek para politisi Demokrat sebagai anti-Israel, anti-Yahudi, anti-Semit karena dinilai tidak berani mengambil keputusan seperti dirinya sebagai orang Republikan yang mendukung penuh Israel, dimana tindakannya yang tidak pernah dilakukan presiden pendahulunya dari Demokrat soal Yerussalem dan Golan pun akhirnya dia pecahkan dengan mengakui Yerussalem sebagai ibukota Israel dengan memindahkan kedutaan AS serta yang terkini pengakuan Dataran Tinggi Golan sebagai milik Israel.

10. Di pihak Palestina sendiri, pergulatan antara Hamas dan Fatah sebagai saingan politik di tahta pemerintahan Palestina terus berlanjut. Pihak Otoritas Palestina (PA) telah melakukan perbuatan yang justru merugikan rakyat Palestina sendiri hanya karena bersaing dengan Hamas, dan ini adalah hal bodoh dan konyol.

Otoritas Palestina telah menarik pasukan keamanan dan para perwiranya dari Penyebrangan Perbatasan Rafah sebagai satu-satunya rute antara Gaza dan dunia luar melalui Mesir sebagai langkah untuk mengkerdilkan Hamas. Akhirnya pemerintah Mesir pun menutup gerbang Rafah mulai Selasa (22/01) dan mereka hanya mengizinkan orang Palestina yang berada di luar negeri dan berencana kembali pulang ke Gaza.

Menteri Urusan Sipil Otoritas Palestina (PA), Hussein Al-Sheikh pun bahkan berjanji bahwa langkah-langkah untuk memperketat pengepungan terhadap Palestina di daerah kantong pantai tersebut sedang dalam proses untuk diwujudkan.

Anggota Fatah Central Committee, Dalam Salaman pun mengatakan bahwa gerakannya akan mengadakan pertemuan dengan Presiden Abbas setelah kembali atas kunjungan dari Kairo untuk membahas langkah-langkah "lebih keras dan lebih tepat" terhadap Gaza.

Channel 20 TV, sebagai televisi Israel melaporkan bahwa otoritas Palestina telah menangguhkan bantuan keuangan dari Qatar yang rutin dikirim melalui Israel. Kemudian otoritas Palestina pun meminta Duta Besar Qatar untuk Palestina, Mohammad Al-Emadi menunda kunjungannya ke Gaza yang direncanakan pada Minggu (27/01) ketika ia pun akan mengirim data bantuan dari Qatar untuk membayar pegawai pemerintah di daerah Gaza.

Belum sampai disitu, otoritas Palestina pun bahkan sampai melarang transfer uang tingkat tinggi dari luar ke wilayah tersebut. Terlebih lagi AS pun sudah mengumumkan untuk memangkas dana bantuan rutin AS untuk Palestina melalui Bantuan dan Pekerjaan Badan PBB senilai lebih dari $200 juta pada Jumat (24/08/2018) lalu. Meski memang dana bantuan dari Uni Eropa pun tetap mengalir berjumlah hampir 359 juta euro ($416 juta) pada tahun 2017 lalu.

Hal bodoh lainnya yang dilakukan otoritas Palestina, khususnya presiden Palestina, Mahmoud Abbas mengungkapkan pada Sabtu (23/02), bahwa mereka mengusulkan pasukan NATO pimpinan Amerika dikerahkan ke Palestina untuk mengatasi masalah keamanan Israel. Pengungkapan Abbas ini adalah hasil pertemuan dia dengan Trump pada September 2017 lalu. Kemudian dia angkat lagi topik ini di depan para mahasiswa Universitas Amerika di Ramallah pada Sabtu (23/02). Padahal ketika Abbas bertemu dengan Trump membahas pengerahan pasukan NATO, selang 2 Minggu setelah pertemuan tersebut, Trump langsung menyadarkan Yerussalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerussalem. Tetapi entah mengapa Abbas bodoh tidak mengambil pelajaran dari sana.

Itulah 10 poin pengamatan antara kondisi Palestina yang saat ini dikepung 2 konflik, konflik internal Fatah dan Hamas yang merugikan rakyat Palestina sendiri, konflik eksternal yaitu serangan Israel yang didukung penuh oleh AS. Sembari hal ini pun adalah kampanye untuk Netanyahu yang akan menghadapi Pemilu Presiden Israel pada 9 April 2019 nanti, dan pengalihan isu pula bagi Trump atas kasus yang menjerat dirinya sendiri. Maka hasilnya apa yang dikatakan oleh Direktur Jaringan Global untuk Hak dan Pembangunan dari Norwegia, Lo'ay Deeb, bahwa akan terjadi, "eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Gaza akan segera terjadi." [Middle East Monitor.com]

Kemudian bagaimana dengan Khilafah?

Jika kita melihat kembali sejarah daerah Syam, memang sudah sejak masa Rasulullah pun penduduk negeri Syam selalu menjadi tempat pertumpahan darah. Dahulu masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin pun Syam merupakan wilayah yang dulunya dikuasai Romawi, kemudian saat masa Umar pun Syam menjadi tempat pertumpahan darah ketika kaum muslim berperang melawan Romawi. Kemudian pada masa Perang Salib pun yang berlangsung selama lebih dari 100 tahun, Syam lagi yang menjadi tempat pertumpahan darah dalam mempertahankan tanah kaum muslim.

Memang Syam adalah tempat yang sangat strategis dan luar biasa yang Allah spesialkan, di sana pun penduduknya memiliki keimanan yang luar biasa sehingga Allah uji dengan cobaan yang bertubi-tubi hingga sekarang ini diduduki oleh Israel pasca Khilafah Utsmaniyah runtuh. Seolah memang tak ada habisnya perang terus bertubi-tubi ribuan tahun di Syam hingga sekarang.

Tetapi atas kesabaran penduduk Syam yang luar biasa itu, insyaAllah Allah akan memberikan hadiah yang luar biasa kepada mereka atas kesabarannya dengan terwujudnya janji Allah (QS. An-Nur : 55) dan bisyarah Rasulullah (HR. Ahmad no. 17680; al-Bazzar no. 2796) yaitu rakyat Syam akan menegakkan Syariah dan Khilafah ala' minhajin nubuwwah ke-2 di sana yang akan menggetarkan dunia, karena rakyat Syam sudah muak dengan konflik yang terjadi di Palestina dan Suriah serta dengan segala bualan resolusi-resolusi nasional maupun internasional.

Itulah analisis kami. Mohon maaf atas segala kekurangannya.

Wallahu alam bishowab.
Nazril Firaz Al-Faziri

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.